{"id":4303,"date":"2024-07-27T14:09:45","date_gmt":"2024-07-27T14:09:45","guid":{"rendered":"https:\/\/philosophizeus.org\/?p=4303"},"modified":"2024-12-21T05:34:01","modified_gmt":"2024-12-21T05:34:01","slug":"demokrasi-dan-ketidaksepakatan-perspektif-jacques-ranciere","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/2024\/07\/27\/demokrasi-dan-ketidaksepakatan-perspektif-jacques-ranciere\/","title":{"rendered":"Demokrasi dan Ketidaksepakatan: Perspektif Jacques Ranciere"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"4303\" class=\"elementor elementor-4303\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-71b1c6a e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"71b1c6a\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-fd2ed00 elementor-widget elementor-widget-xpro-heading\" data-id=\"fd2ed00\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"xpro-heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"xpro-heading-wrapper xpro-simple-heading-wrapper\">\n\t<h4 class=\"xpro-heading-title\">Sebuah Pengantar: <span class=\"xpro-title-focus\">Ada apa dengan demokrasi?<\/span> <\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-d4da732 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"d4da732\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-396387d elementor-widget elementor-widget-xpro-drop-cap\" data-id=\"396387d\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"xpro-drop-cap.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"xpro-dropcap-wrapper\">\r\n\t<div style=\"text-align: justify\">Demokrasi menarik untuk dibahas karena begitu dekat dengan keseharian kita. Pada zaman yunani kuno, dalam pemikiran Platon, demokrasi mendapat nama yang buruk. Namun, di zaman modern ini, demokrasi mendapat \u201cangin segar\u201d kembali. Sistem ini dianggap sebagai sistem yang terbaik karena memberikan ruang yang besar kepada keragaman dan kebebasan. Satu persatu sistem selain demokrasi seperti monarki dan komunisme telah runtuh. Demokrasi seperti \u201cpemenang\u201d yang terakhir masih berdiri. Bahkan dikatakan bahwa demokrasi adalah sistem yang paling cocok untuk kondisi masyarakat Indonesia.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"1\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-1\">1<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-1\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"1\">Pernyataan ini muncul dalam kuliah umum di Budapest oleh Dubes RI Mangasi Sihombing pada tulisan \"Demokrasi Pilihan Terbaik untuk Indonesia,\"Website https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-1131080\/demokrasi-pilihan-terbaik-untuk-indonesia(diunduh 6 April 2021).<\/span> Meskipun demikian, saat ini masyarakat sudah kehilangan gairah dan kekurangan pengharapan terhadap demokrasi. Kegalauan terhadap demokrasi bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara demokrasi seperti Amerika serikat dan Eropa Barat.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"2\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-2\">2<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-2\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"2\">Penulis mengutip pernyataan ini dari kalimat pembuka A. Setyo Wibowo untuk buku Disensus karya Sri Indiyastutik. Sri Indiyastutik, Disensus : Demokrasi sebagai Perselisihan menurut Jacques Ranciere (Buku Kompas, 2019), hlm. Vii.<\/span> Khususnya di Indonesia, perebutan kekuasaan berulang kali hanya terjadi pada kalangan tertentu saja. Label demokrasi tampaknya hanya nama terselubung bagi rezim oligarki dan aristokrasi. Hal ini memunculkan suatu pertanyaan \u201capakah demokrasi berhasil?\u201d<\/div><div>\u00a0<\/div><div style=\"text-align: justify\">Dalam konteks inilah pemikiran Ranciere mulai banyak didiskusikan pada abad 20 ini. Pemikirannya mengenai kesetaraan, demokrasi, \u201cyang politis\u201d, serta \"<em>the wrong<\/em>\", memberikan perspektif yang segar terhadap demokrasi. Ayu Utami, dalam diskusinya mengenai pemikiran Jacques Ranciere, menyatakan bahwa Ranciere bisa membantu kita yang sudah kecewa terhadap demokrasi.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"3\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-3\">3<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-3\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"3\">Pernyataan ini muncul dalam diskusi mengenai pemikiran Ranciere dalam konteks pandemi ini. \u201cBeranda Filsafat #1 Membaca Ranciere di Masa Pandemi,\u201d Channel Youtube Teater Utan Kayu, , posted April 7, 2021, https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=S-yMNaJOZao&amp;t=4748s (diunduh 2 April 2021).<\/span> Kita yang kecewa terhadap demokrasi, justru karena salah mengenal apa itu demokrasi yang sebenarnya. Dengan perbedaan yang tegas oleh Ranciere antara apa yang disebut dengan \u201cpolitik\u201d dan \u201cbukan politik\u201d, hal ini menumbuhkan pengharapan kembali dan gairah yang baru terhadap demokrasi.<\/div><\/div>\r\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-5efc7b5 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"5efc7b5\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e212b1c elementor-widget elementor-widget-xpro-heading\" data-id=\"e212b1c\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"xpro-heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"xpro-heading-wrapper xpro-simple-heading-wrapper\">\n\t<h4 class=\"xpro-heading-title\">Demokrasi sebagai <span class=\"xpro-title-focus\">Perselisihan<\/span> <\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-378245e e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"378245e\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-25c1121 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"25c1121\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div style=\"text-align: justify;\"><p>Menurut Ranciere, ketidaksepakatan dalam demokrasi bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau harus dipaksakan menjadi kesepakatan. Sebaliknya tatanan yang terus terbuka terhadap ketidaksepakatan adalah tatanan yang menantang untuk dipikirkan. Itu sebabnya demokrasi bukanlah suatu kondisi yang statis, tetapi merupakan suatu \u201cperjalanan\u201d yang dinamis. Robertus Robet, dalam diskusinya mengenai demokrasi, memberikan gambaran dua macam kekuasaan, yaitu kekuasaan yang \u201cmemaksa\u201d dan kekuasaan yang sifatnya &#8220;persuasif&#8221;. Pada beberapa rezim yang besifat &#8220;memaksa&#8221; masih terdapat situasi konfrontasi \u201cpolitik\u201d yang memungkinkan seseorang untuk bersikap tegas dalam menilai rezim pemerintahan. Beberapa bentuk pemerintahan dengan metode persuasifnya justru kurang membuka medan konfrontasi sehingga sebenarnya demokrasi mendapat ancaman. Demokrasi pada dasarnya seharusnya mengandalkan disensus, bukan konsensus. Inti dari demokrasi adalah adanya ruang bagi ketidaksepahaman. Jika semua sudah sepaham, pada intinya ini bukanlah demokrasi.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"4\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\" refnum=\"4\" role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-4\">4<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-4\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"4\">Analisis mengenai demokrasi oleh Robertus Robet ini diambil dari Channel Youtube dengan judul &#8220;Inti Dari Demokrasi Itu Disensus Bukan Konsensus, \u201dChannel Youtube <em>Sorge Magazine<\/em>, posted may 6, 2015, https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=b88s1ufGUBU (diunduh 2 mei 2021).<\/span> Menurut Ranciere, demokrasi selalu berupa tindakan perselisihan antara demos dan tatanan sosial dalam konteks verifikasi kesetaraan. Demokrasi adalah konsistensi tindakan perselisihan antara orang-orang yang tidak terhitung (yang salah atau <em>the wrong<\/em>) dengan tatanan sosial mapan yang selalu luput dalam melihat keberadaan yang salah.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"5\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-5\">5<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-5\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"5\">Sri Indiyastutik, <em>Disensus : Demokrasi sebagai\u00a0 Perselisihan menurut Jacques ranciere<\/em> (Jakarta : Buku Kompas, 2019), hlm. 39.<\/span><\/p><\/div>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-36ab845 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"36ab845\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7a71fdb elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"7a71fdb\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div style=\"text-align: justify;\"><p>Ranciere berhati-hati dalam mendefinisikan politik, karena politik yang sering didefinisikan atau didasarkan atas dasar (<em>arkhe<\/em>) yang \u201cstatis\u201d, bukanlah politik dalam arti yang sebenarnya. Ide mengenai kesetaraan justru selama ini menjadi penopang bagi tatanan sosial dominan.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"6\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-6\">6<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-6\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"6\">Ibid., hlm. 175.<\/span> Filsafat politik seringkali justru menyembunyikan skandal ini, yaitu verifikasi kesetaraan. Berbeda dengan filsafat politik pada umumnya, Ranciere memulai dengan asumsi kesetaraan, bukan dengan janji kesetaraan. Hal ini menjadi masuk akal ketika demokrasi mulai mendapat banyak kritikan karena kebencian terhadap demokrasi ini dimulai dari sulitnya menerima kesetaraan. Justru bagi Ranciere, para pengritik yang merasa banyak mengetahui mengenai demokrasi ini, mereka tetap ada dalam skema yang sama yaitu skema oligarki. Ranciere menghindari pembicaraan yang ideal mengenai politik. Ada dua pembedaan istilah yang digunakan, yaitu <em>La Politique<\/em> (Politik, ) dan <em>Le<\/em> <em>Politique<\/em> (<em>the political<\/em> atau <em>yang politis<\/em>).<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"7\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-7\">7<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-7\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"7\">Ibid., hlm. ix<\/span> Dengan pembedaan ini maka jelas sekali apa yang dikritik oleh para pembenci demokrasi dan kekecewaan yang muncul pada para pembela demokrasi tidak tepat sasaran. Kekecewaan terhadap demokrasi ditimbulkan karena tidak bisa membedakan antara tatanan sosial (<em>Police<\/em>) dengan politik yang sesungguhnya (<em>yang politis<\/em>). <em>Police<\/em> merupakan suatu tatanan kesatuan yang dapat terlihat dan terkatakan. Misalnya yang terlihat dalam demokrasi di Indonesia adalah kaum tertentu yang dianggap &#8216;normal&#8217; sedangkan ada kelompok lainnya itu berada di luar tatanan. Ketika kaum &#8216;terpinggirkan&#8217; muncul (mulai terlihat) karena asumsi kesetaraan, inilah yang disebut <em>demos<\/em>. Pembedaan \u201cPolitik\u201d dengan \u201cyang politis\u201d dari pemikiran Ranciere ini melampaui apa yang dibahas dalam filsafat politik.<\/p><p>Politik yang dibahas Ranciere ada pada konteks demokrasi. Politik bukanlah perebutan kekuasaan partai politik terhadap kursi kekuasaan dalam pemerintahan. Politik juga bukanlah cara-cara atau metode untuk mempertahankan kekuasaan. Politik dalam konteks demokrasi ini pada intinya adalah gangguan. Gangguan terus menerus oleh <em>the wrong<\/em> terhadap tatanan sosial dominan untuk verifikasi kesetaraan. Maka dalam pemahaman Ranciere, tatanan itu tidaklah harus stabil. Khususnya dalam dunia yang serba cepat karena perkembangan teknologi dan media sosial, bila tatanan tidak terbuka maka demokrasi akan terancam mandeg<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"8\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-8\">8<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-8\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"8\">Ibid., hlm. xi<\/span><\/p><\/div>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2d85061 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"2d85061\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e0ad09b elementor-widget elementor-widget-xpro-heading\" data-id=\"e0ad09b\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"xpro-heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"xpro-heading-wrapper xpro-simple-heading-wrapper\">\n\t<h4 class=\"xpro-heading-title\">Titik tolak pemikiran Jacques Ranciere :  <span class=\"xpro-title-focus\">Kesetaraan<\/span> <\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-80d214c e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"80d214c\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2484814 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"2484814\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div style=\"text-align: justify;\"><p>Pembahasan mengenai demokrasi dalam pemikiran Ranciere itu dimulai dengan kesetaraan. Kesetaraan merupakan asumsi atau pegandaian (titik tolak). Kesetaraan bukanlah tujuan yang seringkali dalam praktiknya justru adalah pelanggengan dominasi kaum elite. Ketika filsuf politik, ahli politik, atau negarawan mengajarkan apa arti kesetaraan yang harus diperjuangkan, justru tidak mengandaikan kesetaraan sebagai titik tolak. Seperti seorang ibu buta huruf yang tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis, tetapi tetap percaya bahwa anaknya\u00a0 akan mampu berbahasa seperti dirinya. Sikap yang tepat dalam konteks demokrasi adalah ajakan untuk bertualang, bukan justru memberikan gagasan <em>arkhe<\/em> yang sifatnya statis.<\/p><p>Robertus Robet memberikan ilustrasi mengenai 4 mahasiswa kulit hitam yang hidup di zaman penuh rasisme di Greensboro, Carolina Utara, Amerika Serikat. Saat itu mereka ingin duduk di kantin kampus.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"9\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-9\">9<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-9\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"9\">Ilustrasi tersebut diambil dari artikel Robertus Robet, Yang-Politis, yang-Estetis, dan Kesetaraan Radikal : Etika Politik Jacques ranciere pada buku F.Budi Hardiman, Robetus Robet, A. Setyo Wibowo, Empat Esai Politik (Jakarta : www.srimulyani.net, 2011), hlm. 31.<\/span> Tetapi ada aturan yang secara ketat yang menyebutkan bahwa kantin tersebut hanya untuk mahasiwa kulit putih. Dalam hal ini, mereka bisa saja menulis petisi ke pimpinan kampus dengan argumentasi diskriminasi, melakukan protes ke dewan kota, atau menuliskan suatu laporan dengan basis teori hak asasi dan kesetaraan universal ke dewan Hak Asasi Manusia. Namun, yang terjadi adalah tanpa rencana apapun keempat mahasiswa tersebut mengunjungi kantin, duduk, kemudian makan dan minum tanpa mempedulikan peraturan yang rasis tersebut. Dengan melakukan tindakan ini, para mahasiwa ini muncul\u00a0 sebagai subyek yang mendasarkan pada asumsi kesetaraan. Istilah yang digunakan oleh Ranciere untuk menjelaskan bagian yang tak terhitung, yang tidak dianggap yang melakukan verfiikasi kesetaraan itu yaitu\u00a0 <em>yang salah<\/em> (<em>the wrong<\/em>) dan <em>demos.<\/em><\/p><p>Kesetaraan dalam pemikiran Ranciere dapat dibedakan menjadi tiga hal. Pertama, kesetaraan adalah sebuah pengandaian (pra-anggapan), artinya kesetaraan bukanlah struktur ontologis yang mendasari hubungan antar manusia. Kedua, kesetaraan adalah titik tolak cara berpikir. Kesetaraan ini menentang segala bentuk hierarki kemampuan akal budi (tidak ada penilaian seseorang itu lebih pintar atau lebih bodoh). Ketiga, kesetaraan perlu diverifikasi atau diuji, artinya kesetaraan merupakan sesuatu yang perlu dibuktikan melalui tindakan.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"10\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-10\">10<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-10\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"10\">Sri Indiyastutik, Disensus : Demokrasi sebagai\u00a0 Perselisihan menurut Jacques ranciere (Jakarta : Buku Kompas, 2019), hlm. 93.<\/span> Maka kesetaraan bukanlah nilai yang menjadi dasar tindakan seseorang atau sekelompok orang. Kesetaraan bukan juga tujuan akhir atau ideal yang harus dicapai. Itu sebabnya, kesetaraan bukanlah janji yang terealisasi di masa depan, tetapi sebuah kondisi (syarat) hubungan antar manusia atau kelompok yang tidak ada hierarki dan dapat diverifikasi dalam kerangka ruang dan waktu yang dinamis (tidak dapat ditentukan). Pengujian kesetaraan ini (oleh <em>demos<\/em> terhadap tatanan sosial) dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"11\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-11\">11<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-11\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"11\">Ibid., hlm.94.<\/span> Dengan demikian, politik tidak hadir untuk politik itu sendiri karena bersifat kontingen. Konsep politik Ranciere menolak segala bentuk dasar memerintah yang berdasarkan pada <em>arkhe<\/em>.<\/p><p>Pembahasan filsafat politik mengenai kesetaraan selalu berkait dengan logika <em>arkhe<\/em>. Sebaliknya bagi Ranciere, politik adalah <em>an-archical.<\/em> Dengan demikian, ia mengkritik praktik filsafat yang selama ini mencoba untuk mencari jalan keluar atas kebuntuan-kebuntuan pemikiran, misalnya definisi keadilan atau definisi kesetaraan.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"12\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-12\">12<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-12\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"12\">Ibid., hlm 41.<\/span> Analisis Ranciere mengenai konsep kepemimpinan yang berdasarkan pada <em>arkhe<\/em> diambil dari analisisnya terhadap pemikiran Platon. Dalam analisis Ranciere, pemikiran ini masuk ke dalam archipolitik. Legitimasi memerintah berdasarkan <em>arkhe<\/em> tertuang dalam buku Platon yaitu buku III dalam <em>Laws<\/em>.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"13\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-13\">13<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-13\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"13\">Ibid., hlm 42.<\/span> Platon membuat tujuh kriteria kelayakan seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Kriteria ini berdasarkan pada kodrat keturunan, senioritas, kebijaksanaan, kekayaan, penguasaan pengetahuan. Pembagian berdasarkan kriteria ini ke dalam partisi atau sekat-sekat dengan arche tertentu justru kontradiksi dengan titik awal kesetaraan. Dalam pemikiran Platon, yang merupakan archi-politik, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk boleh menjadi seorang pemimpin. Partisi dan hierarki ini juga muncul juga dalam pemikiran Aristoteles. Pemikiran Aristoteles ini digolongkan ke dalam kelompok para-politik. Aristoteles membedakan dua kemampuan diri manusia, yakni <em>phone<\/em> dan <em>logos<\/em>. <em>Phone<\/em> merupakan kemampuan alamiah untuk menyuarakan rasa senang dan rasa sakit. Kemampuan ini dimiliki juga oleh hewan selain pada manusia. Di sisi yang lain, <em>logos<\/em> merupakan kemampuan berbahasa, berkata-kata, sehingga dapat membedakan mana yang adil dan mana yang tidak adil.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"14\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-14\">14<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-14\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"14\">Robertus Robet, Yang-Politis, yang-Estetis, dan Kesetaraan Radikal : Etika Politik Jacques ranciere pada buku F.Budi Hardiman, Robertus Robet, A. Setyo Wibowo, Empat Esai Politik (Jakarta : www.srimulyani.net, 2011), hlm. 36.<\/span><\/p><p>Menurut Robet, filsafat Aristoteles memiliki sisi diskriminatif. Seorang budak dianggap tidak memiliki <em>logos<\/em>. Bagaimana mungkin seorang budak dapat berkomunikasi dengan tuannya jika tidak memiliki <em>logos<\/em>? Dalam kategori yang dibuat oleh Aristoteles terdapat eksklusi kaum budak dan tidak menghitungnya sebagai bagian dari tatanan. Ini seperti demokrasi kelas menengah. Dari kritiknya terhadap Aristoteles, Ranciere menyatakan konsepnya mengenai \u201crezim sensibilitas\u201d. Rezim ini muncul ketika sang tuan menihilkan kapasitas logos seseorang sehingga dengan demikian terjadi peminggiran hak orang tersebut sebagai bagian dari tatanan.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"15\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-15\">15<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-15\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"15\">Ibid., hlm.36.<\/span> Keterbelahan\u00a0 dalam kategori manusia baik dalam pemikiran Platon maupun Aristoteles, yang menghasilkan penghitungan atau partisi sosial, dilakukan dalam suatu kategori tunggal, yaitu bahwa \u201cpolitik\u201d hanya berlaku terbatas bagi manusia yang memiliki kemampuan untuk mempraktikan atau memiliki akses kepada <em>arkhe<\/em>. Permasalahan yang sama juga terdapat pada pemikiran Karl Marx. Menurut Ranciere, filsafat Marx memiliki upaya untuk mengisolasikan kategori proletar dari kelas pekerja actual. Ploretariar Marx merupakan kategori konseptual abstrak hasil dari pemisahan dengan kelas pekerja aktual. Gambaran konsep ini terdapat pada rezim poltik yang menjanjikan kesetaraan. Pemikiran Marx ini digolongkan ke dalam meta-politik. Baik archi-politik, meta-politik, maupun para-politik, ketiganya merupakan lawan dari yang politis.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"16\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-16\">16<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-16\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"16\">Ibid., hlm.37.<\/span> Dalam analisis Ranciere terhadap yang politis, demos tidak memperjuangkan tiga hal ini.<\/p><p>Pengandaian kesetaraan yang dimaksud oleh Ranciere adalah kesetaraan akal budi. Posisi ini berlawanan dengan segala prinsip utama (<em>arkhe<\/em>) yang menghasilkan hierarki melalui pembagian-pembagian dalam masyarakat. Akal budi setara pada setiap orang, tidak ada hierarki yang menunjukkan seseorang lebih baik akal budinya daripada yang lain. Yang salah tidak inferior karena memiliki kemampuan akal budi yang lebih bodoh. Melalui munculnya diri yang salah tidak menunjukkan mereka telah naik level, tetapi justru memperlihatkan kesetaraan mereka dengan yang lain. Konsep kesetaraan Ranciere melampaui konsep kesetaraan aritmatis dan geometris yang berfokus pada pembagian kesetaraan berdasarkan nilai guna dan perannya dalam masyarakat.<sup class=\"modern-footnotes-footnote \" data-mfn=\"17\" data-mfn-post-scope=\"000000002709b56000000000314a9e81_4303\"><a href=\"javascript:void(0)\"  role=\"button\" aria-pressed=\"false\" aria-describedby=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-17\">17<\/a><\/sup><span id=\"mfn-content-000000002709b56000000000314a9e81_4303-17\" role=\"tooltip\" class=\"modern-footnotes-footnote__note\" tabindex=\"0\" data-mfn=\"17\">Prinsip kesetaraan aritmatis dan geometris merupakan prinsip keadilan Aristoteles. Dalam keadilan aritmatis dinyatakan bahwa pembagian setara bagi setiap masing-masing orang dengan asumsi bahwa setiap orang berhak mendapat bagian yang sama. Sedangkan keadilan geometris merupakan pembagian kepada masing-masing orang yang berbeda berdasarkan kemampuan atau kualitas yang dimiliki seseorang. Analisis ini diambil dari Sri Indiyastutik, Disensus : Demokrasi sebagai Perselisihan menurut Jacques ranciere (Jakarta : Buku Kompas, 2019), hlm. 51.<\/span> Bagi Ranciere, kesetaraan itu bukan tujuan, melainkan titik tolak atau pengandaian untuk berpikir dan bertindak. Kesetaraan ini bukanlah sesuatu yang bersifat ontologis (<em>arkhe<\/em>).<\/p><\/div>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2dd7618 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"2dd7618\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-90731d2 elementor-widget elementor-widget-xpro-heading\" data-id=\"90731d2\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"xpro-heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"xpro-heading-wrapper xpro-simple-heading-wrapper\">\n\t<h4 class=\"xpro-heading-title\">Kesimpulan <\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-060e0eb e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"060e0eb\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2da075c elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"2da075c\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div style=\"text-align: justify;\"><p>Ranciere kembali mengingatkan inti dari demokrasi bukanlah kesepakatan, tetapi ketidaksepakatan. Tentu sebagai orang Perancis, Ranciere memiliki posisi yang positif terhadap demokrasi. Hal yang penting dalam demokrasi adalah asumsi kesetaraan. Dalam pemikiran Ranciere inilah, kita kembali melihat dengan tepat apa yang selama ini dikatakan sebagai \u201cpolitik\u201d, tapi ternyata pada intinya berbeda sekali dengan \u201cyang politis\u201d. Tuduhan-tuduhan yang buruk dan kekecewaan terhadap demokrasi ternyata salah sasaran. Demokrasi adalah skandal yang terjadi terus-menerus. \u00a0Justru menurut tilikan Ranciere, pada dasarnya, demokrasi adalah keterbukaan dan tawaran bertualang.<\/p><\/div>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-5d1b149 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"5d1b149\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-75dcdb4 elementor-widget elementor-widget-xpro-heading\" data-id=\"75dcdb4\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"xpro-heading.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"xpro-heading-wrapper xpro-simple-heading-wrapper\">\n\t<h4 class=\"xpro-heading-title\">Sumber: <\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-b2033c4 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"b2033c4\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-5c1ed41 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"5c1ed41\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<ul><li>\u201cDemokrasi Pilihan Terbaik untuk Indonesia.\u201d DetikNews. Mei 2009. https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-1131080\/demokrasi-pilihan-terbaik-untuk-indonesia (diakses April 06, 2021).<\/li><li>Hakim, Rakhmat Nur. SBY Daftarkan Merek Partai Demokrat secara Pribadi ke Kemenkumham. 12 April 2021. https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2021\/04\/12\/21091731\/sby-daftarkan-merek-partai-demokrat-secara-pribadi-ke-kemenkumham (diakses April 19, 2021).<\/li><li>Indiyastutik, Sri. Disensus : Demokrasi sebagai Perselisihan menurut Jacques Ranciere. Jakarta: Buku Kompas, 2019.<\/li><li>Kayu, Teater Utan. Beranda Filsafat #1 Membaca Ranciere di Masa Pandemi. 7 April 2021. https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=S-yMNaJOZao&amp;t=4748s (diakses April 2, 2021).<\/li><li>Magazine, Channel Youtube : Sorge. Robertus Robet &#8220;Inti Dari Demokrasi Itu Disensus Bukan Konsensus&#8221;. 6 May 2015. https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=b88s1ufGUBU (diakses Mei 2, 2021).<\/li><li>Robet, Robertus. \u201cYang-Politis, yang-Estetis, dan kesetaraan Radikal.\u201d Dalam Empai Esai Politik, oleh Robertus robet, A. Setyo Wibowo F. Budi Hardiman. Jakarta: www.srimulyani.net, 2011.<\/li><\/ul>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-fab5b55 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no wpr-equal-height-no e-con e-parent\" data-id=\"fab5b55\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-bab470f wpr-comment-reply-separate wpr-comment-reply-align-right elementor-widget elementor-widget-wpr-post-comments\" data-id=\"bab470f\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"wpr-post-comments.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"wpr-comments-wrap\" id=\"comments\">\t<div id=\"respond\" class=\"comment-respond\">\n\t\t<h3 id=\"wpr-reply-title\" class=\"wpr-comment-reply-title\">Komentar<span class=\"ct-cancel-reply\"><a rel=\"nofollow\" id=\"cancel-comment-reply-link\" href=\"\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4303#respond\" style=\"display:none;\">Cancel Reply<\/a><\/span><\/h3><form action=\"https:\/\/philosophizeus.org\/wp-comments-post.php\" method=\"post\" id=\"wpr-comment-form\" class=\"wpr-comment-form wpr-cf-style-5\"><p class=\"comment-notes\"><span id=\"email-notes\">Your email address will not be published.<\/span> <span class=\"required-field-message\">Required fields are marked <span class=\"required\">*<\/span><\/span><\/p><p class=\"comment-form-field-input-author\">\n\t\t\t<label for=\"author\">Name <b class=\"required\">&nbsp;*<\/b><\/label>\n\t\t\t<input id=\"author\" name=\"author\" type=\"text\" value=\"\" size=\"30\" required='required'>\n\t\t\t<\/p>\n<p class=\"comment-form-field-input-email\">\n\t\t\t\t<label for=\"email\">Email <b class=\"required\">&nbsp;*<\/b><\/label>\n\t\t\t\t<input id=\"email\" name=\"email\" type=\"text\" value=\"\" size=\"30\" required='required'>\n\t\t\t<\/p>\n<p class=\"comment-form-field-input-url\">\n\t\t\t\t<label for=\"url\">Website<\/label>\n\t\t\t\t<input id=\"url\" name=\"url\" type=\"text\" value=\"\" size=\"30\">\n\t\t\t\t<\/p>\n<div class=\"wpr-comment-form-text\"><label>Message<span>*<\/span><\/label><textarea name=\"comment\" placeholder=\"\" cols=\"45\" rows=\"8\" maxlength=\"65525\"><\/textarea><\/div><p class=\"comment-form-cookies-consent\"><input id=\"wp-comment-cookies-consent\" name=\"wp-comment-cookies-consent\" type=\"checkbox\" value=\"yes\"><label for=\"wp-comment-cookies-consent\">Save my name, email and website in this browser for the next time I comment.<\/label><\/p>\n<p class=\"form-submit\"><button type=\"submit\" name=\"submit\" id=\"wpr-submit-comment\" class=\"wpr-submit-comment\" value=\"Submit\">Submit<\/button> <input type='hidden' name='comment_post_ID' value='4303' id='comment_post_ID' \/>\n<input type='hidden' name='comment_parent' id='comment_parent' value='0' \/>\n<\/p><p style=\"display: none !important;\" class=\"akismet-fields-container\" data-prefix=\"ak_\"><label>&#916;<textarea name=\"ak_hp_textarea\" cols=\"45\" rows=\"8\" maxlength=\"100\"><\/textarea><\/label><input type=\"hidden\" id=\"ak_js_1\" name=\"ak_js\" value=\"42\"\/><script>document.getElementById( \"ak_js_1\" ).setAttribute( \"value\", ( new Date() ).getTime() );<\/script><\/p><\/form>\t<\/div><!-- #respond -->\n\t<\/div>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Photo by Patrick Perkins on Unsplash<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4305,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[43,41,34,40,44,42],"class_list":["post-4303","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-filsafat-tentang-filsafat","tag-arkhe","tag-demokrasi","tag-filsafat","tag-jacques-ranciere","tag-ketidaksepakatan","tag-the-wrong"],"blocksy_meta":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4303"}],"version-history":[{"count":101,"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4303\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5855,"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4303\/revisions\/5855"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/philosophizeus.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}